TEMPAT BERSEJARAH DI SUMEDANG

Standar

 Dayeuh Luhur
Dayeuh Luhur adalah desa di kecamatan Ganeas, Sumedang, Jawa Barat, Indonesia.
dayeuh luhur adalah sebuah tempat yang terletak di kecamatan Ganeas.Kira-kira empat puluh lima menit jika melakukan perjalanan dari desa Ganeas.Dayeuh yang artinya kota dan luhur artinya adalah tinggi. Karena letaknya ditempat yang tinggi maka dinamakan Dayeuh luhur. Sejarah pernah mencatat bahwa di tempat ini pernah menjadi pusat pemerintahan kerajaan sumedang ketika melawan penjajahan belanda. Di tempat ini pula terdapat makam putri Harisbaya istri dari prabu geusan ulun.Karena itu tempat ini telah di kenal oleh masyarakat sumedang sebagai tempat wisata ziarah. Sepanjang perjalanan ke tempat ini akan terlihat pemandangan yang indah. Di sisi kana dan kiri maka akan terlihat bukit-bukit kecil nan elok.Setiap bulan muharam tiba maka tempat ini akan ramai di kunjungi oleh masyarakat. Baik dari sumedang maupun dari kota lain. Ada yang ziarah maupun hanya sekedar melihat-lihat. Dan di atas bukit ini terdapat pula peninggalan tongkat yang dikenal oleh masyarakat sumedang sebagai tongkat mbah jaya perkoso yang tak lain adalah patih dari kerajan sumedang. Dan dari tempat inilah kita dapat melihat kota sumedang dan sekitarnya.

Benteng Belanda di Gunung Kunci
(Gunung Kunci)
Gunung Kunci namanya, sebuah benteng buatan Belanda yang terletak tidak jauh dari pusat kota Sumedang yang dikamuflasekan dalam sebuah bukit. Sebenarnya bukit ini bernama Gunung Panjunan, namun karena terdapat lambang kunci di gerbang masuk benteng inilah nama bukit ini kemudian sering disebut sebagai Gunung Kunci sampai sekarang.
Pada foto diatas pun bisa dilihat gambar kuncinya, berbentuk menyilang di pintu masuk gua. Kata “Gunung” pada Gunung Kunci ini bukan berarti gunung dalam artian gunung besar seperti Gunung Tampomas, mungkin itu hanya nama tempat saja karena tempat ini tidak setinggi gunung yang harus mendaki ketika mengunjunginya, melainkan hanya sebuah bukit kecil yang ada di tengah-tengah kota Sumedang.
Gunung Kunci ini sekarang dijadikan salah satu wana wisata yang ada di Sumedang, jadi di tempat ini kita bisa berwisata alam juga sekaligus wisata sejarah, dan jujur saja ketika pertama kali  saya mengunjungi tempat ini saya kagum dan tidak percaya, bagaimana mungkin sebuah bangunan bisa menahan beban begitu beratnya ?! bisa dilihat di foto di atas, bangunan atau benteng ini seolah tidak bergeming ataupun runtuh meskipun diatasnya ditumpuk tanah dan ditumbuhi ratusan pohon pinus yang begitu besar.
Menurut beberapa sumber dikatakan bahwa benteng ini dibangun pada masa Perang Dunia I atau sekitar tahun 1914-1917 dan diresmikan pada tahun 1918 oleh Belanda. Disinilah mungkin cerdiknya Belanda, mereka membangun sebuah benteng di tengah pusat pemerintahan Sumedang dimana benteng tersebut dibangun di sebuah bukit yang otomatis relatif lebih tinggi dari tempat lain di sekelilingnya. Benteng ini dibuat melingkar dengan moncong meriam diarahkan ke pusat pemerintahan Sumedang dan ke tempat-tempat strategis lainnya, dengan demikian bisa dibayangkan jika terjadi sesuatu yang dapat membahayakan kedudukan mereka…yap, tentunya dengan sekali dentuman meriam saja akan langsung memporakporandakan pemerintahan Sumedang, bagaimana tidak…jaraknya mungkin tidak sampai setengah km dari tempat meriam ini ke pusat pemerintahan Kabupaten Sumedang kala itu. Didalam benteng ini terdapat bunker-bunker dan lorong yang berfungsi sebagai tempat pertahanan dan tempat penyimpanan senjata Belanda kala itu, selain itu juga ada ruang-ruang tahanan dan sebuah sumur.
 Monument Lingga.
Salah satunya bangunan yang telah menjadi saksi sejarah pada zaman Belanda adalah monumen Lingga atau ada juga yang menyebutnya dengan Tugu Lingga.
Monumen yang berada tepat di tengah alun-alun kota Sumedang ini dibangun sebagai bentuk penghargaan atas jasa-jasa Bupati Sumedang kala itu, yakni Pangeran Aria Suria Atmadja. Karena beliau dianggap sangat berjasa dalam mengembangkan kota Sumedang di berbagai bidang, seperti pertanian, perikanan, kehutanan, peternakan, kesehatan, pendidikan dan banyak bidang lainnya. Beliau memerintah di kota Sumedang dari tahun 1883 sampai 1919. Beliau wafat di Mekah ketika sedang melaksanakan ibadah haji pada 1 Juni 1921.
Monumen Lingga sendiri dibangun oleh Pangeran Siching dari Belanda pada tahun 1922 yang kemudian diresmikan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu Mr. Dirk Fock, yaitu pada 22 Juli 1922. Pada saat peresmian monumen ini ikut hadir bupati Sumedang yang menggantikan Pangeran Aria Suria Atmadja, yakni Tumenggung Kusumadilaga dan beberapa pejabat Hindia Belanda dan tentunya orang-orang pribumi.
Monumen yang menjadi landmark Kota Sumedang ini merupakan bangunan permanen. Bagian dasar bangunan ini berbentuk bujur sangkar dan dilengkapi dengan sejumlah anak tangga serta pagar disetiap sisinya. Sedangkan bangunan utamanya berupa kubus yang sedikit melengkung disetiap sudut bagian atasnya. Pada bagian ini terdapat sebuah pintu yang dulu digunakan untuk memasukan barang, karena pada zaman dulu monumen ini digunakan sebagai tempat penyimpanan barang-barang peninggalan bupati terdahulu.
Namun, sekarang semua barang yang tadinya disimpan di dalam monumen ini sudah dipindahkan ke Museum Prabu Geusan Ulun. Sedangkan dibagian paling atas monumen ini terdapat bangunan setengah lingkaran yang mirip dengan kubah masjid. Menurut beberapa sumber, ternyata kubah ini merupakan tempat pengambilan barang-barang dari dalam Monumen Lingga, karena sebenarnya kubah ini memiliki kunci dan bisa dibuka.
Monumen Lingga merupakan bangunan unik yang dibangun pada zamannya, karena pada saat itu seorang penguasa lebih sering membangun Tugu atau Prasasti untuk mengenang suatu hal. Karena keunikan dan sejarahnya, tak heran jika monumen ini dijadikan sebagai lambang resmi Kabupaten Sumedang.
Sebagai peninggalan sejarah masa silam dan landmark kebanggaan masyarakat Sumedang, sudah selayaknya Monumen Lingga ini selalu dijaga oleh kita semua, terutama oleh warga Sumedang. Jangan sampai monumen ini terabaikan hingga hancur seperti monumen lainnya. Karena setiap monumen mampu mengingatkan kita akan sejarah masa lalu yang bisa kita petik pelajaran di dalamnya. 

Museum Gesan Ulun.
Museum Prabu Geusan Ulun terletak di Kompleks Pendopo Kabupaten Sumedang terletak di pusat Kota Sumedang. Kompleks ini semenjak Sumedang berdiri pada tahun 1705 hingga sekarang berfungsi sebagai pusat pemerintahan kabupaten Sumedang. Kompleks yang didalamnya terdapat bangunan-bangunan tersebut berukuran seluas 1,8 ha dan dikelilingi dengan tembok setinggi tiga meter. Di dalam kompleks terdapat bangunan-bangunan yang cukup tua , yaitu Gedung Srimangati yang dibangun pada tahun 1706, Gedung Bumi Kaler (1850), dan Gedung Gendeng (1850). Selain itu, terdapat tiga gedunglainnya yang relatif baru, yaitu Gedung Gamelan (1973), Gedung Pusaka (1990), dan Gedung Kereta Naga Paksi (1996).  Museum menempati Gedung Srimanganti. Gedung ini dibangun tahun 1706 oleh Bupati Dalem Adipati Tanumaja yang memindahkan pusat kota kabupaten dari Tegal Kalong ke tempat ini. Gedung Srimanganti merupakan bangunan permanen berdinding tembok. Berlantai tinggi dengan permukaan tegel dan pada bagian teras belakang bangunan dijumpai adanya tiang-tiang penyangga lantai kayu. Jendela-jendela berukuran cukup besar dengan bentuk segi empat dan melengkung atau kurva. Pintu-pintu berukuran cukup besar serta pada bagian atas daun pintu terdapat ventilasi yang dipenuhi hiasan floral. Juga dilengkapi tiang-tiang bangunan kokoh. Gedung Srimanganti pada awalnya berfungsi sebagai kediaman resmi bupati dan keluarganya. Pada tahun 1950 samapai dengan 1982 dipergunakan sebagai Kantor Pemerintah Daerah Kabupaten Sumedang. Pada tahun 1982 dipugar dan setelah dipugar difungsikan sebagai museum dengan nama Museum Prabu Geusan Ulun. Di dalam museum terdapat koleksi, antara lain Meriam Kalantaka, peninggalan Kompeni tahun 1656, gamelan Panglipur yang merupakan peninggalan Pangeran Rangga Gede (1625 – 1633), gamelan Pangasih peninggalan Pangeran Kornel (1791 – 1828), dan gamelan Sari Arum peninggalan Pangeran Sugih (1836 – 1882). Di samping itu juga terdapat koleksi lainnya seperti tempat tidur Pangeran Kornel dan baju-baju kebesaran bupati masa lampau.
Mesjid Agung.
Masjid yang berada di lingkungan kaum, Kelurahan Regol Wetan, Kecamatan Sumedang Selatan ini dibangun pada tahun 1850 masehi di atas tanah wakaf Rd. Dewi Aisah, konon pembangunannya digagas oleh Pangeran Soegih atau Pangeran Soeria Koesoemah Adinata, Bupati Sumedang tahun 1836-1882. Pada proses pembangunannya ada sebuah cerita, yang katanya membuat Masjid Agung Sumedang ini terlihat unik,  yaitu Masjid Agung Sumedang dengan atap masjid bersusun tiga makin ke atas makin kecil, mirip bangunan Pagoda, Kelenteng, atau Vihara Ian. ini tak lepas dari keberadaan etnis Tionghoa di Sumedang kala itu, yang menjadikan Masjid Agung Sumedang ini memiliki perpaduan arsitektur Tionghoa dan Islam.
Dari cerita yang berkembang secara lisan dan turun temurun di masyarakat, konon saat pembangunan Masjid Agung Sumedang ini secara kebetulan bertepatan dengan masuknya sejumlah imigran dari daratan Tionghoa yang hidup nomaden ke Sumedang, kita tahu sendiri bahwa mereka piawai atau ahli dalam membuat rumah ibadat dan mengukir berbagai ornamennya, selain itu mereka memiliki keterampilan berniaga dan bertani, dan yang tak kalah pentingnya adalah mereka sangat jago ilmu bela diri.
Dikisahkan, kelompok pendatang dari daratan Tionghoa tersebut ingin menunjukkan eksistensinya di Sumedang dengan cara menjajal ilmu bela diri mereka dengan pribumi, apalagi saat itu konon di daerah kaum Sumedang pernah ada tempat khusus yang disebut kalangan, yaitu tempat berlatih atau bertanding ilmu beladiri. Tak perlu menunggu lama, akhirnya mereka pun dipertemukan dengan sejumlah tokoh Sumedang yang jago ilmu bela diri.
Pertandingan pun dimulai, kedua belah pihak betanding dengan sengit. Pertandingan ilmu bela diri tersebut berakhir dengan kekalahan etnis Tionghoa dan para pendekar Sumedang keluar sebagai pemenang, sebagai tanda menyerah dan menghormati pribumi, mereka pun akhirnya bersedia mengabdikan diri pada para tokoh Sumedang saat itu. Salah satu bentuk pengabdian mereka tersebut adalah membantu mendirikan Masjid Agung Sumedang ini. Oleh Pangeran Soegih mereka pun akhirnya diberi tempat untuk tinggal dan membangun pemukiman mereka di Sumedang, hingga kini tempat bermukimnya etnis Tionghoa di awal-awal kedatangannya tersebut bernama Gunung Cina.

Maka dari itu tak heran jika bentuk bangunan Masjid Agung Sumedang ini seperti bergaya arsitektur Cina abad ke-19. Ciri khas lain diantaranya adalah Koridor sayap kiri dan kanan serta depan yang terbuka. Bentuk menara yang bersusun tiga, dan bentuk bujur sangkar yang disebut tumpang, disusun makin ke atas makin kecil, tingkatan paling atas merupakan atap terakhir berbentuk limas disebut mamale. Pada bagian puncak dari Masjid Agung Sumedang ini bertengger sebuah benda yang disebut mustaka yang bentuknya menyerupai Mahkota raja-raja di masa lampau.
Tiang Penyangga Luar Masjid Agung Sumedang
Nah, hal unik lainya dari Masjid Agung Sumedang ini adalah banyaknya tiang penyangga bangunan, dimana secara keseluruhan ada 166 tiang, dan konon hal tersebut adalah ciri khas arsitektur Masjid kuno dan antik bergaya abad ke 19. Bentuk mimbarnyapun sangat antik dan dibiarkan berdiri dalam bentuk aslinya, dengan empat tiang yang dicat keemasan dan bangunan kecil dengan atap limas. Tempat khatib berdiri dibuat dengan empat trap sebagai tangga dan tempat duduknya seperti singgasana kerajaan. Tombak yang suka dipegang oleh muraqi dan khatib masih utuh terbuat dari kayu jati dan berumur satu abad lebih, sekitar 120 tahun.
Mesjid aggung saat ini telah mengalami beberapa kali restorasi. Pertama kali pada tahun 1913 M oleh Pangeran Mekah. Berikutnya tahun 1962, 1982 dan terakhir pada tahun 2002 hingga menjadi seperti yang terlihat sekarang dengan menghabiskan anggaran sebesar Rp. 4,2 M, namun meskipun demikian restorasi yang dilakukan tetap mempertahankan keaslian arsitekturnya karena dilindungi undang-undang. Oh ya, lokasi Bekas Rumah Tinggal Cut Nyak Dien selama masa pengasingannya di Kabupaten Sumedang berada di belakang Masjid Agung Sumedang ini.
Iklan

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s